
KENCU - Tetap ANGGUN meski BERACUN
KENCU
Tetap ANGGUN meski BERACUN
Kencu/gincu merupakan salah satu warna merah dalam tradisi kesenian di Bali. Keberadaan Kencu di Bali masih menyimpan teka-teki, namun berbagai catatan sejarah dan penelitian menunjukkan bahwa penggunaannya mulai dikenal di Nusantara melalui jalur perdagangan pada abad ke-17 hingga ke-19, seiring interaksi antara Bali, Tiongkok, dan dunia luar.
Warna merah pada topeng, patung ataupun lukisan dalam tradisi Bali semula mungkin diperoleh dari pigmen alam seperti tanah merah (laterit) atau batu besi (hematite). Namun dengan terbukanya jalur perdagangan dengan Tiongkok dan Eropa, pigmen impor seperti Kencu atau Cinnabar mulai dikenal dan memberikan kualitas warna yang lebih kuat serta tahan lama. Penelitian Valen (2005) menyebutkan bahwa pada abad ke-17 terjadi ekspor besar cinnabar dari Tiongkok ke Jepang dan Eropa, sementara Chowdry (2014) menegaskan bahwa warna ini juga memiliki makna spiritual mendalam dalam kebudayaan Hindu dan Jainisme. Hal ini memperkuat kemungkinan bahwa pengaruh warna merah berbasis Cinnabar dalam kesenian di Bali merupakan bagian dari arus budaya dan material global.
Penggunaan Cinnabar mencapai puncaknya di Asia Timur, terutama di Tiongkok kuno. Sejak masa Dinasti Shang sekitar 1600–1046 SM, Cinnabar digunakan secara luas di berbagai aspek kehidupan sosial, spiritual, dan artistik. Warna merahnya yang kuat melambangkan kehidupan, kebahagiaan, dan keabadian, sehingga digunakan untuk menghias peralatan upacara, perhiasan, keramik, dan bahkan untuk melapisi pernis pada patung serta benda-benda kerajaan.
Dalam tradisi Taoisme, cinnabar memiliki makna kosmologis yang mendalam karena diasosiasikan dengan elemen api dan energi vital atau "qi". Para alkemis Tao percaya bahwa cinnabar dapat diubah menjadi "pil keabadian" yang memberi hidup abadi bagi mereka yang meminumnya. Keyakinan ini mendorong eksperimen alkimia yang berisiko, karena cinnabar mengandung merkuri yang sangat beracun. Beberapa kaisar dan pendeta tercatat meninggal akibat menelan racikan yang mengandung cinnabar. Meski demikian, warna merahnya tetap menjadi simbol spiritual dan politik yang kuat, digunakan untuk mewarnai makam bangsawan agar roh mereka terlindungi dan mencapai kehidupan abadi di alam baka.
Awal Mula Cinnabar
Cinnabar disebut juga Zhu sha adalah mineral berwarna merah menyala yang secara kimia merupakan merkuri sulfida (HgS). Terbentuk dari proses hidrotermal di daerah vulkanik dan mata air panas, mineral ini menjadi sumber utama logam merkuri sekaligus pigmen merah yang memikat manusia sejak ribuan tahun lalu. Bukti arkeologis menunjukkan bahwa sekitar 7000–8000 SM, masyarakat Anatolia Turki telah menggunakan bubuk cinnabar untuk menghias dinding dan tubuh dalam ritual pemakaman. Warna merahnya melambangkan darah, kehidupan, dan kelahiran kembali. Kemudian di Semenanjung Iberia, sisa-sisa cinnabar juga ditemukan dalam kuburan prasejarah, dan analisis isotop menunjukkan adanya paparan merkuri yang tinggi pada tulang manusia kuno.
Di dunia Barat, bangsa Romawi mengenal Cinnabar sebagai pigmen yang sangat berharga dan langka. Mereka menambang cinnabar dari Almadén di Spanyol, tambang yang kemudian menjadi salah satu penghasil merkuri terbesar di dunia selama dua ribu tahun. Pliny the Elder dalam karyanya Natural History mencatat bahwa Cinnabar adalah bahan pewarna paling mahal, bahkan nilainya setara dengan emas. Pigmen yang dihasilkan dari Cinnabar disebut Vermilion, dan digunakan untuk menghias lukisan dinding (fresco) di rumah-rumah elit, patung marmer, dan kuil-kuil Romawi. Di kota Pompeii, dinding vila-vila kaya dihiasi warna merah menyala dari cinnabar yang hingga kini masih terlihat jelas.
Namun di balik kemewahan itu, tambang cinnabar menjadi tempat penderitaan: para budak dan penambang yang menghirup uap merkuri dari proses pemanasan bijih sering meninggal dalam usia muda akibat keracunan berat. Penggunaan cinnabar pada masa Romawi menunjukkan bagaimana sebuah bahan alami dapat menjadi simbol kekayaan dan status, sekaligus alat yang menyingkap sisi kelam dari kemajuan manusia.
Secara terpisah, di benua Amerika, peradaban Mesoamerika seperti suku Maya dan Aztec juga mengenal cinnabar dan menggunakannya dalam ranah religius. Dalam situs-situs penting seperti Palenque di Meksiko, makam Raja Pakal ditemukan ditaburi lapisan tebal bubuk cinnabar berwarna merah darah. Bagi masyarakat Maya dan Aztec, warna merah bukan sekadar pigmen, melainkan lambang matahari, darah, dan kekuatan hidup. Cinnabar digunakan dalam upacara pemakaman untuk menandai transisi raja dari dunia fana menuju keabadian sebagai dewa. Pigmen ini juga ditemukan di topeng Jade, ornamen emas, dan artefak ritual yang berhubungan dengan pengorbanan manusia dan komunikasi dengan dewa-dewa.
Menariknya, penggunaan Cinnabar di wilayah ini berkembang tanpa pengaruh langsung dari Eurasia, menunjukkan bahwa ketertarikan manusia terhadap warna merah terang memiliki makna universal yang melintasi budaya dan geografis.
Kencu: Kini dan Nanti
Di balik kemegahan dan keanggunan warnanya, Kencu/Cinnabar menyimpan sisi berbahaya. Kandungan merkuri yang tinggi menjadikannya bahan beracun yang dapat menimbulkan kerusakan saraf dan organ tubuh jika terpapar dalam jangka panjang. Sejak abad ke-19, kesadaran ilmiah mengenai bahaya merkuri membuat banyak negara melarang penggunaannya, baik dalam kosmetik, obat, maupun seni. Di Tiongkok, Cinnabar tidak lagi digunakan secara luas kecuali untuk tujuan ritual terbatas. Sementara di dunia seni, termasuk di dalam tradisi Bali, keberadaan Kencu/Cinnabar juga sangat sulit ditemukan. Pigmen sintetis seperti cadmium red dan vermilion organik menjadi pengganti yang lebih aman.
Meskipun Cinnabar tidak lagi digunakan secara luas, tetapi keindahan warnanya yang sudah menjadi bagian dari tradisi yang sulit untuk digantikan dengan bahan sintetis. Beberapa seniman tradisi masih berusaha mendapatkan dan menggunakan warna itu dalam setiap karyanya, mungkin karena adanya keterikatan emosional dalam proses penciptaan yang membuat setiap karyanya lebih memiliki makna. Namun terlepas dari semua itu, di dalam senirupa kontemporer warna Kencu/Cinnabar akan tetap hadir dengan makna yang berevolusi.
Dari Kencu kita bisa memahami pentingnya pengetahuan dalam berkesenian. Pemahaman tentang warna dan juga sifat kimia dari pigmen yang digunakan, bisa menentukan pencapaian efek dan daya tahan karya serta berbagai implikasi yang bisa ditimbulkan. Oleh karena itu ilmu pengetahuan bukanlah hal yang terpisah dari seni rupa, melainkan bagian integral yang memperkaya, memungkinkan dan memperdalam praktik seni itu sendiri. Keduanya berasal dari rasa ingin tahu manusia untuk memahami dunia di sekitar mereka dan mengekspresikan pemahaman itu.