
“PERE” Warna Tertua Didalam Karya Seni
Batu Pere: Warna Tertua dalam Sejarah Seni Manusia
Dari dinding gua prasejarah hingga lukisan Kamasan Bali — sebuah perjalanan pigmen mineral yang melampaui ribuan tahun peradaban.
Apa Itu Batu Pere?
Batu pere adalah bahan alami yang telah lama digunakan sebagai pigmen warna dalam tradisi seni Bali. Batu ini mengandung dua mineral utama:
- Limonite — menghasilkan warna kuning kecoklatan (ochre)
- Hematite — menghasilkan warna merah kecoklatan
Proses pengolahannya sederhana namun efektif: batu ditumbuk halus, lalu dicampur dengan lem ancur hingga membentuk pigmen warna tradisional yang tahan lama.
Jejak Tertua di Dunia: Dari Afrika hingga Sulawesi
Jauh sebelum cat sintetis ditemukan, manusia prasejarah telah mengenal dan memanfaatkan oksida besi sebagai pigmen. Bukti arkeologis tersebar di berbagai penjuru dunia:
Gua Blombos, Afrika Selatan
Di sini ditemukan artefak yang dilapisi warna merah oker — manik-manik dan ukiran non-fungsional. Usianya diperkirakan antara 74.000 hingga 100.000 tahun yang lalu, menjadikannya salah satu bukti penggunaan pigmen tertua yang pernah ditemukan. Bahkan, garis-garis silang pada batuan merah oker di Afrika Selatan diperkirakan berumur 73.000 tahun.
Gua Leang-leang, Sulawesi Selatan
Ini adalah salah satu situs sejarah paling penting di Indonesia dan dunia. Lukisan dinding di gua ini menampilkan:
- Hand stencils (cetakan tangan)
- Figur hewan berwarna merah, termasuk babi rusa
Warna merah pada lukisan-lukisan ini berasal dari pigmen alami hematite — mineral oksida besi yang sama dengan kandungan batu pere. Penelitian Aubert dkk. (2014) yang diterbitkan di jurnal Nature mencatat usia minimum 39.900 tahun untuk cetakan tangan dan 45.500 tahun untuk lukisan hewan babi rusa — menjadikannya lukisan gua figuratif tertua di dunia.
Merah: Warna Pertama yang Diproses Oleh Mata Manusia
Mengapa merah begitu universal dalam seni prasejarah? Para arkeolog memberikan beberapa alasan:
- Mudah terlihat dari jarak jauh — merah adalah warna yang paling kontras di alam liar
- Memicu respons emosi yang kuat — dikaitkan dengan darah, api, dan kehidupan
- Dianggap sakral — di hampir setiap peradaban kuno, merah memiliki makna spiritual
Di setiap peradaban — dari Mesir, Yunani, Romawi, India, hingga Tiongkok — pigmen oker digunakan untuk lukisan dinding, makam, manuskrip, dan bahkan kosmetik. Pada Abad Pertengahan dan Renaisans Eropa, ochre tetap menjadi bahan dasar cat fresko dan cat minyak karena sifatnya yang tahan lama dan ekonomis.
Batu Pere dalam Tradisi Seni Bali
Dalam konteks seni Bali, batu pere memiliki peran yang sangat khas dan mendalam:
Lukisan Wayang Kamasan
Warna kuning dan merah dari batu pere digunakan untuk memberi rona khas pada figur-figur wayang, pakaian, serta latar cerita dalam lukisan tradisional Kamasan.
Topeng Tradisional Bali
Para sangging topeng (pengrajin topeng) memanfaatkan batu pere untuk memberikan warna alami pada permukaan kayu topeng upacara.
Proses Mubuhin
Batu pere juga digunakan dalam proses mubuhin — tahap pewarnaan dasar pada kanvas yang terbuat dari kain blacu — sebagai fondasi sebelum lapisan warna berikutnya ditambahkan.
Pulau Serangan: Asal-usul Batu Pere di Bali
Dahulu, batu pere banyak ditemukan di Pulau Serangan, Bali. Menurut cerita turun-temurun, batu ini diduga berasal dari batu pemberat perahu yang dibawa oleh para pelaut dari Sulawesi. Ketika perahu mereka berlabuh atau rusak, batu-batu tersebut dibuang di pesisir pulau.
Para pelukis Kamasan dan pengrajin topeng kemudian menemukan batu ini dan menyadari potensinya sebagai pigmen alami yang menghasilkan warna kuning dan merah kecoklatan yang khas dan tahan lama.
Ancaman Kelangkaan
Sayangnya, sejak reklamasi Pulau Serangan pada tahun 1990-an, batu pere semakin sulit ditemukan. Kini hanya segelintir seniman yang masih menyimpan stok terbatas. Sebagian lainnya mengimpor dari daerah lain di Indonesia, di mana tambang batu pere masih bisa ditemui.
Warisan yang Tak Lekang oleh Waktu
Di era modern, pigmen sintetis memang telah menggantikan sebagian besar fungsi praktis batu pere. Namun, hematite dan limonite tetap dihargai oleh para seniman yang mencari nuansa warna bumi yang otentik — khususnya dalam tradisi lukisan Kamasan Bali.
Perjalanan batu pere — dari bahan sehari-hari manusia prasejarah hingga pilihan estetis seniman kontemporer — adalah bukti nyata tentang:
- Kesinambungan teknologi sederhana yang melewati ribuan generasi
- Makna simbolik warna merah dan kuning tanah yang universal
- Ketahanan pigmen mineral sebagai salah satu medium seni paling abadi dalam sejarah manusia
Batu pere bukan sekadar batu berwarna. Ia adalah penghubung antara manusia prasejarah di gua-gua gelap dengan seniman Bali masa kini — sebuah benang merah yang tak pernah putus sepanjang perjalanan seni manusia.